Hari itu seperti hari biasanya bagi kebanyakan orang, tapi tidak bagiku. Hari yang teramat mendebarkan dan menegangkan. Teramat sangat mendebarkan !!! Bukan karena aku sedang menghadapi Ujian Nasional waktu SMU dulu, bukan pula karena aku aku bertemu dengan Presiden Republik Indonesia. Tapi ini lebih menegangkan!La haula Wala Kuwwata Illa billah... Tiada ada kekuatan selain kekuatan engkau ya Allah. Selalu kata itu yang kuucapkan dalam hati. Tanpa henti !!! Karena memang yang akan kuhadapi ini bukan sesuatu yang main-main, tetapi hidup dan mati!
Setelah semua berunding ( suami, mama dan aku) maka diputuskan untuk cepat-cepat membawaku ke Rumah Sakit Aisyiyah rumah sakit yang memang adalah salah satu rumah sakit bersalin yang ada di Samarinda. Ya...benar sekali, sebentar lagi aku akan melahirkan seorang baby. Subhanallah...
Ku coba untuk bersikap serileks mungkin dan berusaha untuk tidak panik. Kulakukan semua yang disarankan oleh perawat yang merawatku saat itu. Agar semua berjalan dengan lancar dan kami berdua( aku dan bayiku) selamat serta sehat.
Kupandangi sekeliling rumah sakit sambil terus berdoa dalam hati. Mama dan suamiku terus dengan setia menemaniku. Walaupun beberapa saat lagi suamiku harus meninggalkanku untuk sementara demi menempuh ujian semester di STAIN Samarinda. Mungkin saja ketika dia pergi, aku sedang melahirkan padahal aku perlu support. Ini nich penting sekali buat para suami untuk terus berada disisi istrinya ketika melahirkan, selain sebagai support juga sebagai kekuatan buat para istri. Eits...jangan lupa tiada ada kekuatan selain kekuatan yang diatas.
Akhirnya, setelah menunggu di rumah sakit sekitar 2 jam lebih dan alhamdulillah ketika perutku mules, suamiku datang seakan-akan enggan untuk berjauhan dariku. Entah waktu di kampus tadi konsen apa enggak dengan ujiannya tadi, entahlah. Yang penting saat ini aku benar-benar mules, sakit perut dan apalagi namanya...panik!!!
Dengan segala doa yang dipanjatkan orang tuaku, mertua, saudara-saudara, terutama suamiku bayiku akhirnya lahir dengan selamat dan sehat. Alhamdulillah...
Berakhir sudah perjuanganku, dan from today ada sesuatu yang begin...ini awal dari perjuanganku dan suamiku untuk menjadi orang tua yang bisa mendidik anak kami dengan sebaik-baiknya. Inilah hal yang lebih berat. Pertanggungjawaban atas titipan Tuhan yang paling indah. Mau kau jadikan apa ia? Putihkah atau hitamkah?
Setelah semua berunding ( suami, mama dan aku) maka diputuskan untuk cepat-cepat membawaku ke Rumah Sakit Aisyiyah rumah sakit yang memang adalah salah satu rumah sakit bersalin yang ada di Samarinda. Ya...benar sekali, sebentar lagi aku akan melahirkan seorang baby. Subhanallah...
Ku coba untuk bersikap serileks mungkin dan berusaha untuk tidak panik. Kulakukan semua yang disarankan oleh perawat yang merawatku saat itu. Agar semua berjalan dengan lancar dan kami berdua( aku dan bayiku) selamat serta sehat.
Kupandangi sekeliling rumah sakit sambil terus berdoa dalam hati. Mama dan suamiku terus dengan setia menemaniku. Walaupun beberapa saat lagi suamiku harus meninggalkanku untuk sementara demi menempuh ujian semester di STAIN Samarinda. Mungkin saja ketika dia pergi, aku sedang melahirkan padahal aku perlu support. Ini nich penting sekali buat para suami untuk terus berada disisi istrinya ketika melahirkan, selain sebagai support juga sebagai kekuatan buat para istri. Eits...jangan lupa tiada ada kekuatan selain kekuatan yang diatas.
Akhirnya, setelah menunggu di rumah sakit sekitar 2 jam lebih dan alhamdulillah ketika perutku mules, suamiku datang seakan-akan enggan untuk berjauhan dariku. Entah waktu di kampus tadi konsen apa enggak dengan ujiannya tadi, entahlah. Yang penting saat ini aku benar-benar mules, sakit perut dan apalagi namanya...panik!!!
Dengan segala doa yang dipanjatkan orang tuaku, mertua, saudara-saudara, terutama suamiku bayiku akhirnya lahir dengan selamat dan sehat. Alhamdulillah...
Berakhir sudah perjuanganku, dan from today ada sesuatu yang begin...ini awal dari perjuanganku dan suamiku untuk menjadi orang tua yang bisa mendidik anak kami dengan sebaik-baiknya. Inilah hal yang lebih berat. Pertanggungjawaban atas titipan Tuhan yang paling indah. Mau kau jadikan apa ia? Putihkah atau hitamkah?



No comments:
Post a Comment